Minggu, 18 Oktober 2015

Sejenak Senja

"Sejenak..
Bersandar diufuk
didekap sayap Malaikat
Kepala merebah…
Angin menghembus nafas
Sayup berdesir..
mengeringkan embun mata
jelas namun nanar
Kutapak lagi..
Jejak ku kemana"

Ruang dengar.

Cawan cinta telah kukeringkan untuk sesaat
Ku ingin liat, apakah dasarnya cukup bersih?

Jika kau ada waktu
Cobalah kau dengar suara hati…
Berikan ruang untuk berbisik
Atau bahkan berteriak..
Pastikan dindingnya kedap
Agar gaungnya tak mengganggu/mengusik…

Hening tunggu bening..
Tak perlu tanyakan hal yang sulit
Sederhana saja..
Seperti..
Taukah kau mengenai mahsyar,titian sirath dan syafaat?!

Perhatikan saja…
Ketika mulai mengganguk, sesaat terdiam,
Atau kemudian banyak bercerita.

Just listen…

Frozen heart

berhentilah mendeskripsikan rasa..
biarkan saja tergumpal bulat-bulat
menggelinding, berdenyut-denyut, memantul mantul
menghancurkan dinding berperisai kebodohan dan kesombongan..

bukan salah langit mendung kelam
bukan karena hawa pengap dan lembab
tak mengapa ruang kotak ini masi saja diam sunyi

sisakan malu pada gadis kecil berwajah tak wajar
tak dapat kutebak dia tersenyum atau menangis..
hanya indra bicaranya meliputi setengah wajah mungilnya..
menatap dengan berbinar setiap lalu lalang...
menanti lembaran dan kepingan terlempar kearahnya..

mungkin langit mendung kelam lebih gelap untuknya..
hawa pengap gelap lebih terasa untuknya
ruang tak berdinding akan banyak berbicara padanya.

tanya kenapa
hati masi dingin dan beku,
mungkin rasa malu tlah enggan mengganggu.
Fabiayyia irabbikuma tukadzdziban??!